Dahulu, sesuatu itu menyenangkan. Rasanya, bahagia walaupun
hanya melihatnya tertawa.
Aku pertama kali melihatnya saat MOS dulu
Ya, hampir 3
tahun yang lalu. Kau pasti tau arah pembicaraanku kan? Jangan bilang tidak. Karena
kau pasti tau. Dan ya, ini memang tentang cinta.
Ia tidaklah benar-benar tampan. Tapi, ia dengan senyumnya
sudah jelas melekat pada ingatanku. Bahkan, pertama kali bertemu dengannya
kukira itu cinta pada pandangan pertama. Tapi bukankah itu tak mungkin? Karena bagiku,
cinta pada pandang pertama itu tak ada. Yang ada hanya suka. Kau katakan ia
tampan. Kau katakan ia sempurna. Tanpa kau mengenal ia lebih dalam. Bagiku, itu
semua omong kosong.
Tapi kemudian aku melihatnya. Ia tak tersenyum. Ia juga tak
lembut. Ia hanyalah, lelaki. Itu yang aku maksud.
Tapi kemudian, tau-tau aku menyukainya.
Tau-tau aku merindukannya.
Apa? Kau bertanya apakah ia juga menyukaiku? Kau bertanya
apakah ia juga merindukanku?
Tunggu. Awalnya aku juga mempertanyakan itu. Namun kemudian
aku menyadarinya.
Ia berhenti. Ia berhenti beranjak dari tempat terakhir ia
berdiri. Tempat terakhir ia berpegangan. Tempat terakhir yang ia percaya. Ia masih
berhenti pada orang yang sama. Ya, masa lalunya.
Mungkin memang benar, aku tak punya harga diri. Aku kehilangan
itu sejak aku menyukai dirinya. Dengan kurang ajar, aku menanti setengah tahun
lamanya, dan ia tak kunjung beranjak dari masa lalu. Sungguh, aku tak ingin menyerah.
Tapi, tuhan menyayangiku.
Karena pada akhirnya, aku menyerah.
Untuk apa menunggu seseorang yang tidak akan pernah menungguku?
Ketika hampir di setiap sholat aku menyebut namanya,
mengharapkannya. Untuk apa berharap pada seseorang yang tak pernah
mengharapkanku?
Kini, senyumnya tak lagi bahagiaku. Tawanya, tak lagi jadi
hariku. Mungkin kini semua itu, sudah milik orang lain.
Tapi, aku bahagia. Jauh lebih bahagia dibanding saat dulu
mencintainya.
Karena akhirnya, kau juga harus sadar. Terkadang, kau harus
melepas bahagiamu, untuk mendapatkan bahagia yang membahagiakanmu.
L, 17 tahun.
Komentar
Posting Komentar