Rumahku memiliki teras yang lumayan luas, dan rindang. Banyak tumbuhan kesukaan Kakek yang setiap hari Kakek sirami terjejer rapi dalam pot-pot kecil. Di teras, juga ada kursi goyang kesukaan kakek, biasanya setelah Kakek siram-siram, Ia kemudian akan duduk di kursi goyang membaca koran dengan kacamata melorot di hidungnya sambil minum teh buatanku. Tapi seminggu ini pemandangan itu tidak pernah lagi nampak, setidaknya bagi tetangga-tetanggaku. Kakek batuk-batuk di depan. Aku meraba keningnya. Masih dingin, pikirku. Sudah seminggu ini badan kakekku dingin, kupikir ia sedang sakit, tapi saat kutanyai, Kakekku tetap ngotot bilang ia tidak sakit. Jadi aku akhirnya mengalah dan hanya menyelimutinya seharian. Berharap agar ia tidak kedinginan. Aku merapikan selimut Kakekku lagi agar menutupi badannya, biar Kakek tidak kedinginan. Aku bangkit berdiri ketika kudengar kakekku batuk-batuk lagi di depan. Aku keluar kamar. “Aku buatin teh dulu ya, kek.” Lalu aku berjalan menuju ...
ucapkan selamat datang pada kebahagiaan.