Rumahku
memiliki teras yang lumayan luas, dan rindang. Banyak tumbuhan kesukaan Kakek
yang setiap hari Kakek sirami terjejer rapi dalam pot-pot kecil. Di teras, juga
ada kursi goyang kesukaan kakek, biasanya setelah Kakek siram-siram, Ia
kemudian akan duduk di kursi goyang membaca koran dengan kacamata melorot di
hidungnya sambil minum teh buatanku. Tapi seminggu ini pemandangan itu tidak
pernah lagi nampak, setidaknya bagi tetangga-tetanggaku.
Kakek
batuk-batuk di depan. Aku meraba keningnya. Masih
dingin, pikirku. Sudah seminggu ini badan kakekku dingin, kupikir ia sedang
sakit, tapi saat kutanyai, Kakekku tetap ngotot bilang ia tidak sakit. Jadi aku
akhirnya mengalah dan hanya menyelimutinya seharian. Berharap agar ia tidak
kedinginan.
Aku merapikan
selimut Kakekku lagi agar menutupi badannya, biar Kakek tidak kedinginan. Aku bangkit
berdiri ketika kudengar kakekku batuk-batuk lagi di depan. Aku keluar kamar.
“Aku
buatin teh dulu ya, kek.”
Lalu aku
berjalan menuju ke dapur dan membuatnya. Setelah selesai, aku membawanya pada
kakekku. Ia masih asik menggoyangkan kursinya dan menyuruhku meletakkan teh itu
di meja kecil di sebelahnya. Aku menurut saja. Setelah itu aku membiarkan kakekku
dan bermain ponsel.
Hingga
akhirnya matahari mulai tenggelam, aku bangkit dan membawa teh dingin bekas Kakek yang masih utuh. Aku menoleh lagi, “Kek, udah seminggu kok tetep nggak
diminum sih tehnya, batuknya jadi ga reda-reda kan.”
Aku melangkah
masuk rumah dan menoleh ke kamar, barangkali selimutnya berantakan lagi. Tapi aku
tetap mendengar derit. Kakek masih saja asik menggoyangkan kursinya.
Komentar
Posting Komentar