Langsung ke konten utama

Riddle : Kursi di Teras

Rumahku memiliki teras yang lumayan luas, dan rindang. Banyak tumbuhan kesukaan Kakek yang setiap hari Kakek sirami terjejer rapi dalam pot-pot kecil. Di teras, juga ada kursi goyang kesukaan kakek, biasanya setelah Kakek siram-siram, Ia kemudian akan duduk di kursi goyang membaca koran dengan kacamata melorot di hidungnya sambil minum teh buatanku. Tapi seminggu ini pemandangan itu tidak pernah lagi nampak, setidaknya bagi tetangga-tetanggaku.

Kakek batuk-batuk di depan. Aku meraba keningnya. Masih dingin, pikirku. Sudah seminggu ini badan kakekku dingin, kupikir ia sedang sakit, tapi saat kutanyai, Kakekku tetap ngotot bilang ia tidak sakit. Jadi aku akhirnya mengalah dan hanya menyelimutinya seharian. Berharap agar ia tidak kedinginan.

Aku merapikan selimut Kakekku lagi agar menutupi badannya, biar Kakek tidak kedinginan. Aku bangkit berdiri ketika kudengar kakekku batuk-batuk lagi di depan. Aku keluar kamar.

“Aku buatin teh dulu ya, kek.”

Lalu aku berjalan menuju ke dapur dan membuatnya. Setelah selesai, aku membawanya pada kakekku. Ia masih asik menggoyangkan kursinya dan menyuruhku meletakkan teh itu di meja kecil di sebelahnya. Aku menurut saja. Setelah itu aku membiarkan kakekku dan bermain ponsel.

Hingga akhirnya matahari mulai tenggelam, aku bangkit dan membawa teh dingin bekas Kakek yang masih utuh. Aku menoleh lagi, “Kek, udah seminggu kok tetep nggak diminum sih tehnya, batuknya jadi ga reda-reda kan.”


Aku melangkah masuk rumah dan menoleh ke kamar, barangkali selimutnya berantakan lagi. Tapi aku tetap mendengar derit. Kakek masih saja asik menggoyangkan kursinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kutemukan seorang aku

aku menemukanmu di jalan-jalan panjang itu sebagai seorang anak kecil berbaju biru duduk bersembunyi di ujung belokan situ. aku menemukanmu di jalan-jalan panjang itu sebagai seorang remaja SMA berbaju rapih melongok kecil lewat sekat orang sana-sini menggenggam erat potongan disebut waktu. aku menemukanmu di jalan-jalan panjang itu sebagai seorang lelaki tampan nan bodoh menatap lewat celah dinding roboh sambil memeluk sebuah hangat kau s ebut aku. aku tidak menemukanku aku hanya menemukanmu bagaimana bisa kau sebut hangat itu, aku. aku sudah mengintipmu lewat mata, bibir, hidung, dan semua satuan bagianmu lain. sudah kutamati satu-satu, sampai kamu; kutemukan seorang aku pada sebuah tubuh manusia lain selain aku. selamat ulang tahun, semoga selalu kau temui bahagia.

bahagiamu

Dahulu, sesuatu itu menyenangkan. Rasanya, bahagia walaupun hanya melihatnya tertawa. Aku pertama kali melihatnya saat MOS dulu Ya, hampir 3 tahun yang lalu. Kau pasti tau arah pembicaraanku kan? Jangan bilang tidak. Karena kau pasti tau. Dan ya, ini memang tentang cinta. Ia tidaklah benar-benar tampan. Tapi, ia dengan senyumnya sudah jelas melekat pada ingatanku. Bahkan, pertama kali bertemu dengannya kukira itu cinta pada pandangan pertama. Tapi bukankah itu tak mungkin? Karena bagiku, cinta pada pandang pertama itu tak ada. Yang ada hanya suka. Kau katakan ia tampan. Kau katakan ia sempurna. Tanpa kau mengenal ia lebih dalam. Bagiku, itu semua omong kosong. Tapi kemudian aku melihatnya. Ia tak tersenyum. Ia juga tak lembut. Ia hanyalah, lelaki. Itu yang aku maksud. Tapi kemudian, tau-tau aku menyukainya. Tau-tau aku merindukannya. Apa? Kau bertanya apakah ia juga menyukaiku? Kau bertanya apakah ia juga merindukanku? Tunggu. Awalnya aku juga mempertan...

TUHAN TIDAK TIDUR

L. Prima Pandu Pertiwi   Katanya, Tuhan tidak tidur Subuh-subuh kudengar ia bermain air Menyatu bersama tanaman di dalam rumah Menyirami aku yang kian hari menguning   Katanya, Tuhan tidak tidur Ia mengeluh di tengah tidur namun tak ada yang mendengar Waktu membuatnya mengais dan meringis Ia menangis   Katanya, Tuhan tidak tidur Ia hanya mengikuti alur Memohon supaya ia tidak pernah hancur Ia tidak akan mundur   Selama ia tidak tidur Aku tidak akan hancur