Langsung ke konten utama

pendek saja, ya.

Gelas itu sudah tak lagi panas, hanya sisa sedikit hangat di tepi-tepi keramiknya.
Di depan teh itu, kamu diam.
Entah memikirkan apa atau siapa,
entah mengapa entah bagaimana.
kamu sempat membuka mulutmu sekali dan berkata, 'Aku lelah'.
Setelah kalimat itu keluar,
bibirmu sudah tak butuh berucap.
Aku memahaminya tentu saja,
aku tidak lagi membutuhkan hasil kerja semantik di antara kelu lidahmu.
Lalu sadar tinggal keringat dingin di sela-sela jemarimu yang sedang enggan menjariku.
'Aku tahu,' jawabku.
Aku meraih kembali keramik dengan kepulan kecil sisa seruputanmu tadi dan meneguknya sedikit,
'Cinta sedang melakukan tugasnya, Sayang.'

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kutemukan seorang aku

aku menemukanmu di jalan-jalan panjang itu sebagai seorang anak kecil berbaju biru duduk bersembunyi di ujung belokan situ. aku menemukanmu di jalan-jalan panjang itu sebagai seorang remaja SMA berbaju rapih melongok kecil lewat sekat orang sana-sini menggenggam erat potongan disebut waktu. aku menemukanmu di jalan-jalan panjang itu sebagai seorang lelaki tampan nan bodoh menatap lewat celah dinding roboh sambil memeluk sebuah hangat kau s ebut aku. aku tidak menemukanku aku hanya menemukanmu bagaimana bisa kau sebut hangat itu, aku. aku sudah mengintipmu lewat mata, bibir, hidung, dan semua satuan bagianmu lain. sudah kutamati satu-satu, sampai kamu; kutemukan seorang aku pada sebuah tubuh manusia lain selain aku. selamat ulang tahun, semoga selalu kau temui bahagia.

bahagiamu

Dahulu, sesuatu itu menyenangkan. Rasanya, bahagia walaupun hanya melihatnya tertawa. Aku pertama kali melihatnya saat MOS dulu Ya, hampir 3 tahun yang lalu. Kau pasti tau arah pembicaraanku kan? Jangan bilang tidak. Karena kau pasti tau. Dan ya, ini memang tentang cinta. Ia tidaklah benar-benar tampan. Tapi, ia dengan senyumnya sudah jelas melekat pada ingatanku. Bahkan, pertama kali bertemu dengannya kukira itu cinta pada pandangan pertama. Tapi bukankah itu tak mungkin? Karena bagiku, cinta pada pandang pertama itu tak ada. Yang ada hanya suka. Kau katakan ia tampan. Kau katakan ia sempurna. Tanpa kau mengenal ia lebih dalam. Bagiku, itu semua omong kosong. Tapi kemudian aku melihatnya. Ia tak tersenyum. Ia juga tak lembut. Ia hanyalah, lelaki. Itu yang aku maksud. Tapi kemudian, tau-tau aku menyukainya. Tau-tau aku merindukannya. Apa? Kau bertanya apakah ia juga menyukaiku? Kau bertanya apakah ia juga merindukanku? Tunggu. Awalnya aku juga mempertan...

TUHAN TIDAK TIDUR

L. Prima Pandu Pertiwi   Katanya, Tuhan tidak tidur Subuh-subuh kudengar ia bermain air Menyatu bersama tanaman di dalam rumah Menyirami aku yang kian hari menguning   Katanya, Tuhan tidak tidur Ia mengeluh di tengah tidur namun tak ada yang mendengar Waktu membuatnya mengais dan meringis Ia menangis   Katanya, Tuhan tidak tidur Ia hanya mengikuti alur Memohon supaya ia tidak pernah hancur Ia tidak akan mundur   Selama ia tidak tidur Aku tidak akan hancur