Gelas itu sudah tak lagi panas, hanya sisa sedikit hangat di tepi-tepi keramiknya.
Di depan teh itu, kamu diam.
Entah memikirkan apa atau siapa,
entah mengapa entah bagaimana.
kamu sempat membuka mulutmu sekali dan berkata, 'Aku lelah'.
Setelah kalimat itu keluar,
bibirmu sudah tak butuh berucap.
Aku memahaminya tentu saja,
aku tidak lagi membutuhkan hasil kerja semantik di antara kelu lidahmu.
Lalu sadar tinggal keringat dingin di sela-sela jemarimu yang sedang enggan menjariku.
'Aku tahu,' jawabku.
Aku meraih kembali keramik dengan kepulan kecil sisa seruputanmu tadi dan meneguknya sedikit,
'Cinta sedang melakukan tugasnya, Sayang.'
Di depan teh itu, kamu diam.
Entah memikirkan apa atau siapa,
entah mengapa entah bagaimana.
kamu sempat membuka mulutmu sekali dan berkata, 'Aku lelah'.
Setelah kalimat itu keluar,
bibirmu sudah tak butuh berucap.
Aku memahaminya tentu saja,
aku tidak lagi membutuhkan hasil kerja semantik di antara kelu lidahmu.
Lalu sadar tinggal keringat dingin di sela-sela jemarimu yang sedang enggan menjariku.
'Aku tahu,' jawabku.
Aku meraih kembali keramik dengan kepulan kecil sisa seruputanmu tadi dan meneguknya sedikit,
'Cinta sedang melakukan tugasnya, Sayang.'
Komentar
Posting Komentar