Lelaki itu meletakkan gelas kaca minumannya perlahan, mulai tersenyum.
“Kamu ingat, bagaimana pertama kali kita bertemu?”
Perempuan di depannya balik tersenyum dan dengan semangat mengangguk.
“Tentu saja. 5 tahun yang lalu. Hari itu hari yang mendung, bukan? Aku kedinginan di tempat dudukku. Dan kamu di seberangku ikut merapatkan jas kerjamu. Kamu sedang menelpon, kan? Aku sempat melihatmu tersenyum di telepon.”
Lelaki itu tersenyum kecil, ia menyandarkan tubuhnya perlahan..
“Aku juga mengingatnya. Hari itu udaranya dingin sekali. Aku duduk di bangku itu menunggu, dan kamu juga duduk di sebelah lelaki. Aku pikir dia lelakimu. Aku awalnya masa bodoh dengan kamu yang hanya memakai rok pendek hitam dan kemeja krem berbahan tipis. Tapi tak lama kemudian aku juga melihatmu menghangatkan tangan kamu, dan lelaki itu acuh. Jadi disitulah aku sadar bahwa kamu sendirian.”
Perempuan itu tersenyum kecil, “Lelaki tampan di sebelah aku itu, ya? Ah, aku saja sudah lupa bagaimana wajahnya. Aku hanya ingat kamu berbicara di telepon dengan senyuman lebar. Sesekali tertawa kecil sambil sesekali merapikan rambutmu yang diterpa angin. Kamu pernah mengatakan padaku setelahnya, bahwa kamu sadar aku memerhatikamu kan? Sebenarnya aku hanya penasaran, seseorang seperti apa yang bisa membuatmu sesenang itu.”
“Iya, aku pernah mengatakannya padamu. Aku sadar kamu memerhatikanku. Karena beberapa kali tanpa sadar, waktu aku balik menatapmu, kamu tiba-tiba menggosok-gosok ujung hidungmu. Setelahnya aku jadi tau, itu kebiasaanmu ketika sedang gugup, kan? Percayalah aku sudah tahu kamu memerhatikanku. Dan aku sebenarnya juga tidak tega melihatmu kedinginan.”
“Karena itu kan, kemudian kamu menutup telepon, berdiri melepas jas kamu dan menyodorkannya padaku?”
“Iya, kamu sendirian, dan aku tidak tahu kamu menunggu siapa atau mau kemana.”
“Tapi kemudian perempuan itu tiba-tiba datang entah dari mana. Menyentuh lenganmu dari belakang, dan membuatmu tersenyum lebar. Wah. Aku masih juga mengingat senyummu hari itu. Aku ingin tahu saja, perempuan seperti apa yang bisa membuatmu seperti itu.”
“Waktu itu aku juga bertanya-tanya. Lelaki seperti apa yang dinanti oleh perempuan yang duduk di bangku taman di sore hari yang dingin itu. Aku hanya bisa tersenyum kecil padamu sebelum beranjak.”
Perempuan itu tersenyum kecil lagi, “Aku tidak sempat berterima kasih padamu karena sudah memberikanku jas kamu. Dan lebih lucunya lagi, aku sadar ada kartu nama kamu di dalam kantong jas itu setelah masuk apartemenku.”
Terdengar tawa kecil milik lelaki di depannya, “Iya, aku baru selesai meeting dan lupa kalau meninggalkan beberapa kartu namaku di dalam kantong. Dan tiba-tiba keesokan harinya aku sudah mendapati nomor asing yang mencoba mengirimiku pesan.”
“Hei, tentu saja aku mencoba mencarimu. Aku harus mengembalikan jas hitam mahalmu itu.” Kata perempuan di depannya sambil tertawa kecil.
“Tapi kamu mengagetkan aku, ketika tiba-tiba kamu bertanya alamat apartemenku tanpa menyertakan namamu.”
Perempuan itu tergelak, “Iya, maaf. Aku kan lupa. Aku sudah yakin itu kamu. Jadi kemudian kamu juga tiba-tiba mengirimiku alamat kamu tanpa bertanya siapa aku.”
“Entah kenapa aku sudah tahu bahwa itu kamu. Jadi aku langsung mengirimimu alamatku. Dan kupikir kamu hanya akan mengirimkannya saja, tidak tiba-tiba datang ke apartemenku malam itu juga.”
“Aku ingin melihatmu.”
“Iya, aku tahu.”
Kemudian hening sebentar, dan lelaki itu berdeham kecil.
“Malam itu aku ingat kamu yang tiba-tiba memelukku. Berkata bahwa bohong kalau kamu baru tahu namaku, aku, dan alamat apartemenku.”
“Aku memang berbohong.”
Perempuan itu melanjutkan, “Aku sudah mencintaimu sejak satu tahun sebelumnya.”
“Jadi aku tidak bodoh kan, dengan aku yang balas memelukmu?”
Perempuan itu tersenyum, “Tidak.”
“Dan apa-apa yang terjadi setelahnya?”
Perempuan itu masih tersenyum, “Tidak.”
Lelaki itu tiba-tiba merasa suhu di ruangan ber-AC itu menurun drastis, ia menggigil.
“Aku juga ingat pertemuan terakhir kita dua tahun yang lalu. Aku tidak akan pernah bisa melupakannya.”
Senyum di wajah perempuan itu seketika menghilang, pun di kedua matanya.
“Kamu tidak berpikir aku bisa melupakannya, kan? Jelas-jelas kamu tahu jawabannya.”
“Aku tahu. Aku tahu.”
Perempuan itu menarik napas dalam, dan mulai berbicara.
“Aku ingat itu hari terakhir bulan Maret. Dua tahun lalu. Hari dimana aku harus memilih untuk menyakiti diri aku sendiri. Dengan pergi meninggalan kamu. Mungkin kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya menjadi seorang yang mencintai tapi tidak dicintai.”
Lelaki itu seperti tersengat. Ia menegakkan tubuhnya. Aku mencintaimu, katanya dalam hati.
Perempuan itu berhenti sejenak, menarik napas dalam lagi. Sepertinya ini bukan hal yang mudah untuk dia katakan.
Dan ia mulai melanjutkan, “Kamu lelaki yang luar biasa. Kamu bisa mendapatkan apapun yang kamu mau. Apapun. Bahkan kamu tidak perlu bekerja keras untuk itu. Dan aku yang harus bekerja keras. Aku harus menahan diri ketika melihat banyak wanita tersenyum malu-malu dan mencuri pandang ketika kamu lewat. Aku yang harus menahan diri untuk tidak berteriak-teriak di depan mereka dan berkata bahwa kamu milik aku. Kamu yang sudah dikenal oleh banyak orang, dan harus lelah-lelah memperkenalkan aku di hadapan banyak kolega kamu yang tidak pernah sekalipun mendengar nama aku. Kamu yang harus menahan diri melihat wanita cantik teman-teman kamu hanya untuk menjaga perasaan aku.”
Aku tidak peduli dengan yang lain, katanya dalam hati.
“Aku bukan wanita yang luar biasa. Di saat kamu harus memutuskan sesuatu dan perlu pertimbangan dari aku, aku bahkan tidak pernah bisa membantu untuk meyakinkan kamu. Kamu bilang kamu perlu untuk selalu mendengar pendapatku, tapi bagaimana di saat semua pendapat itu hanya mengarah pada segala hal yang kemudian tidak berguna dan malah semakin memberatkanmu?”
Aku masih mencintaimu, katanya.
“Aku hanya perempuan biasa. Aku tidak mempunyai keinginan lain selain dicintai. Dan kamu, adalah lelaki yang lebih dari cukup untuk aku. Tapi tidak dengan hal itu. Aku tidak membutuhkan sentuhan-sentuhan hangat itu sebelum kamu bertanya bagaimana hariku. Aku tidak membutuhkan napas di atas tengkuk aku sebelum kamu mengecup dahiku dan menceritakanku harimu. Aku tidak menginginkan diskusi panjang itu sebelum kamu memastikan bahwa aku baik-baik saja saat itu. Aku benar-benar hanya butuh hal-hal kecil sederhana yang sedihnya tidak pernah terlintas di benakmu.”
Maafkan aku.
“Aku sudah mencoba dewasa dengan hubungan kita. Aku sudah berusaha menjadi wanita yang kamu butuhkan. Aku selalu berusaha menjadi wanita yang pantas buatmu. Tapi aku tidak pernah merasa cukup. Dan itu melelahkan. Kamu tidak akan pernah tahu seberapa melelahkannya hal itu.”
Aku tahu.
“Tidak, kamu tidak akan pernah tahu. Aku menahan diri ketika aku harus menerima keluhan lelahmu di penghujung hari ketika aku baru tiba tanpa bertanya bagaimana hariku. Aku harus mencoba memahami ketika kamu berkata kamu sudah mengantuk ketika aku baru saja berkata padamu bahwa aku baru pulang, aku lapar dan lewat tengah malam. Aku hanya butuh kalimat-kalimat pendek, seperti “Di dapur kan ada makanan, kemarin aku meninggalkannya di sana untukmu. Ini sudah tengah malam.” Atau sekedar, “Jangan membuatku khawatir.” Tidak pernahkah terlintas kalimat-kalimat itu di otakmu?”
Maaf.
“Sungguh, aku tidak butuh hal lain selain kamu yang menjadi kamu.”
Maaf.
“Aku mencintaimu. Sungguh. Aku tidak sedang bercanda tentang hal itu. Aku sudah mencintaimu di hari pertama Bulan Agustus 6 tahun lalu. Sampai detik ini. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu.”
Perempuan itu membuka tas tangan kecilnya, mencari sesuatu. Ia merasa ia harus mencari tissue.
“Aku mencintaimu, dan karena itulah aku pergi. Terlalu menyakitkan untuk perempuan biasa seperti aku yang mencoba untuk mencintaimu. Di malam-malam panjang sejak dua tahun lalu, aku tidak pernah putus mendoakan kamu. Sesekali aku harus jujur padamu bahwa aku menyesal harus melewatkanmu. Aku mencintaimu. Lalu mengapa harus aku yang menderita karena cinta itu?”
Perempuan itu mengelap habis air matanya, dan tersenyum. Ia bersiap untuk memberikan beberapa kalimat terakhirnya untuk lelaki yang duduk di depannya.
“Aku mencintaimu, dan aku tidak pernah main-main akan hal itu. Sudah jutaan kali aku mengatakan kalimat itu pada diriku sendiri. Jadi hari itu aku memutuskan untuk meninggalkanmu. Cintaku tidak akan pernah cukup untuk memintamu menjadikanku segalamu. Aku tahu kau lebih mencintainya.”
Lelaki itu sudah dari tadi menunggu kalimat terakhir itu keluar dari mulut perempuan itu.
Akhirnya ia berkata, "Aku lebih mencintaimu. Tapi kau tidak pernah percaya.”
Tiba-tiba pintu kaca yang ada di kedai kopi itu terbuka, seorang perempuan masuk. Tersenyum sambil berjalan menuju meja mereka, kemudian duduk di sebelah lelaki itu dan mengecup kecil pipinya.
Seorang perempuan yang sama dari 5 tahun yang lalu.
Komentar
Posting Komentar