Langsung ke konten utama

TUHAN TIDAK TIDUR

L. Prima Pandu Pertiwi

 

Katanya, Tuhan tidak tidur

Subuh-subuh kudengar ia bermain air

Menyatu bersama tanaman di dalam rumah

Menyirami aku yang kian hari menguning

 

Katanya, Tuhan tidak tidur

Ia mengeluh di tengah tidur namun tak ada yang mendengar

Waktu membuatnya mengais dan meringis

Ia menangis

 

Katanya, Tuhan tidak tidur

Ia hanya mengikuti alur

Memohon supaya ia tidak pernah hancur

Ia tidak akan mundur

 

Selama ia tidak tidur

Aku tidak akan hancur

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kutemukan seorang aku

aku menemukanmu di jalan-jalan panjang itu sebagai seorang anak kecil berbaju biru duduk bersembunyi di ujung belokan situ. aku menemukanmu di jalan-jalan panjang itu sebagai seorang remaja SMA berbaju rapih melongok kecil lewat sekat orang sana-sini menggenggam erat potongan disebut waktu. aku menemukanmu di jalan-jalan panjang itu sebagai seorang lelaki tampan nan bodoh menatap lewat celah dinding roboh sambil memeluk sebuah hangat kau s ebut aku. aku tidak menemukanku aku hanya menemukanmu bagaimana bisa kau sebut hangat itu, aku. aku sudah mengintipmu lewat mata, bibir, hidung, dan semua satuan bagianmu lain. sudah kutamati satu-satu, sampai kamu; kutemukan seorang aku pada sebuah tubuh manusia lain selain aku. selamat ulang tahun, semoga selalu kau temui bahagia.

bahagiamu

Dahulu, sesuatu itu menyenangkan. Rasanya, bahagia walaupun hanya melihatnya tertawa. Aku pertama kali melihatnya saat MOS dulu Ya, hampir 3 tahun yang lalu. Kau pasti tau arah pembicaraanku kan? Jangan bilang tidak. Karena kau pasti tau. Dan ya, ini memang tentang cinta. Ia tidaklah benar-benar tampan. Tapi, ia dengan senyumnya sudah jelas melekat pada ingatanku. Bahkan, pertama kali bertemu dengannya kukira itu cinta pada pandangan pertama. Tapi bukankah itu tak mungkin? Karena bagiku, cinta pada pandang pertama itu tak ada. Yang ada hanya suka. Kau katakan ia tampan. Kau katakan ia sempurna. Tanpa kau mengenal ia lebih dalam. Bagiku, itu semua omong kosong. Tapi kemudian aku melihatnya. Ia tak tersenyum. Ia juga tak lembut. Ia hanyalah, lelaki. Itu yang aku maksud. Tapi kemudian, tau-tau aku menyukainya. Tau-tau aku merindukannya. Apa? Kau bertanya apakah ia juga menyukaiku? Kau bertanya apakah ia juga merindukanku? Tunggu. Awalnya aku juga mempertan...